Sebagai Full Stack Web Developer, saya sering dihadapkan pada dilema klasik: "Apakah saya harus refactor kode ini sekarang, atau tunggu nanti?" Pertanyaan itu muncul hampir setiap kali saya membuka project lama atau menangani fitur baru. Melalui pengalaman beberapa tahun terakhir, saya belajar bahwa refactoring bukan hanya soal membuat kode lebih bersih—tapi tentang mencegah utang teknis yang memburuk dari waktu ke waktu.
Apa Itu Refactoring?
Secara sederhana, refactoring adalah proses memperbaiki struktur internal kode tanpa mengubah perilaku eksternalnya. Tujuannya? Membuat kode lebih mudah dibaca, dipelihara, dan diperluas di masa depan.
Pengalaman Pribadi: Tanda-Tanda Kode Perlu Direfactor
1. Kode Sulit Dipahami, Bahkan oleh Diri Sendiri
Suatu ketika, saya kembali ke proyek internal 6 bulan setelah cuti. Saya membaca fungsi bernama processData(), tapi isinya nested loop bercabang dan variabel tanpa nama bermakna. Saya tahu ini saya yang tulis, tapi saya benar-benar tidak paham maksudnya. Saat itu saya sadar: jika penulis kodenya sendiri bingung, berarti kode itu butuh refactor.
2. Setiap Perubahan Bikin Panik
Pada proyek e-commerce, saya diminta menambahkan metode pembayaran baru. Saat menyentuh file lama, saya merasa seperti menjinakkan bom. Satu perubahan kecil bisa menyebabkan error di tempat lain. Tanda kuat bahwa struktur kode sudah terlalu rapuh.
3. Duplikasi Ada di Mana-Mana
Saya pernah menemukan lima fungsi yang melakukan hal serupa dengan nama berbeda. Akibatnya, setiap perubahan harus dilakukan lima kali. Tidak efisien, tidak aman. Saat itulah saya lakukan refactor jadi satu utilitas yang reusable.
4. Logika Bisnis dan Tampilan Tercampur
Dalam satu proyek React, komponen UI saya penuh dengan if-else dan fetch API logic. Sulit diuji, sulit dibaca. Refactoring dengan memisahkan logic ke custom hook dan service layer membuat semuanya lebih modular.
5. Pertumbuhan Fitur Terhambat
Jika kamu merasa harus “mengakali” struktur lama untuk fitur baru, mungkin saatnya refactor. Saya pernah menghabiskan lebih banyak waktu memahami arsitektur lama daripada membangun fitur baru. Ini tanda kalau fondasi perlu diperkuat ulang.
Kapan Sebaiknya Refactor?
-
Sebelum menambah fitur besar: Jangan bangun di atas pondasi rapuh.
-
Saat bug berulang terjadi di tempat yang sama.
-
Setelah testing memadai dan sudah ada jaminan coverage.
-
Jika onboarding developer baru jadi sulit.
Tapi jangan refactor saat deadline mepet atau ketika kamu tidak paham benar tujuan perubahanmu. Refactor harus punya alasan kuat, bukan sekadar perfeksionisme.
Tips Refactor Berdasarkan Pengalaman
-
Mulailah kecil: refactor satu fungsi atau modul, bukan seluruh aplikasi.
-
Gunakan tools seperti linters, formatter, dan test otomatis.
-
Tambahkan unit test sebelum refactor jika belum ada.
-
Dokumentasikan alasan refactor untuk tim (dan dirimu sendiri di masa depan).
Penutup
Refactor bukan sekadar membersihkan kode. Ini adalah investasi jangka panjang agar tim dan produk bisa tumbuh dengan sehat. Dari pengalaman saya, waktu terbaik untuk refactor adalah saat kode mulai memperlambat langkah kita ke depan. Dengarkan intuisi developer-mu—kalau kamu mulai takut menyentuh kode, mungkin sudah waktunya refactor.