Sebagai seorang Full Stack Web Developer yang sering mengerjakan proyek pribadi dan freelance, saya menyadari satu hal penting: kemampuan teknis saja tidak cukup. Mengelola proyek sendiri membutuhkan sistem kerja yang terorganisir, efisien, dan adaptif terhadap perubahan. Berbekal trial & error dan pengalaman lapangan, saya akhirnya menemukan kombinasi tools yang membantu saya bertahan dan berkembang.
Berikut adalah daftar tools yang saya gunakan beserta alasan pemilihannya:
1. Notion – Perencanaan dan Dokumentasi Proyek
Sebelum ngoding, saya selalu mulai dari struktur. Saya gunakan Notion untuk:
-
Menulis scope project & user stories
-
Membuat to-do list harian
-
Mendokumentasikan arsitektur & flow aplikasi
Notion membantu saya berpikir sistematis dan menjaga agar proyek tidak kehilangan arah.
2. Figma – Desain UI/UX Awal
Meski bukan desainer profesional, saya tetap butuh mockup sebelum coding. Dengan Figma, saya bisa:
-
Mendesain wireframe sederhana
-
Kolaborasi jika bekerja dengan designer
-
Menyimpan guideline komponen UI
Ini menghemat waktu saat implementasi front-end.
3. Trello – Manajemen Task & Progress
Saya pakai Trello untuk board Kanban pribadi. Biasanya saya buat kolom seperti:
-
Backlog -
To Do -
In Progress -
Done
Ini membuat progress lebih terlihat dan memudahkan evaluasi mingguan.
4. Git + GitHub – Version Control & Kolaborasi
Wajib hukumnya. Saya menggunakan Git untuk semua proyek, baik pribadi maupun tim. Dengan GitHub, saya bisa:
-
Membuat branch per fitur
-
Menyimpan changelog dengan commit yang rapi
-
Berkolaborasi atau open-source-kan proyek
5. VS Code – Editor Serba Bisa
Kombinasi extension seperti Prettier, ESLint, GitLens, dan Tailwind IntelliSense membuat VS Code jadi andalan saya untuk coding yang rapi dan cepat.
6. Postman – Testing API
Saat membuat back-end dengan Express atau Next.js API routes, Postman jadi sahabat terbaik saya untuk:
-
Cek response API
-
Uji header & payload
-
Simpan koleksi request untuk regresi test
7. Docker – Lingkungan Konsisten
Untuk proyek yang melibatkan database, Redis, atau backend lainnya, saya sering pakai Docker Compose agar semua service berjalan seragam di berbagai mesin.
8. Vercel & Railway – Deployment Mudah
Saya deploy front-end (Next.js) ke Vercel, dan back-end (Node.js, database) ke Railway. Keduanya punya:
-
Setup mudah
-
CI/CD otomatis dari GitHub
-
Gratis untuk skala kecil
9. Google Calendar & Clockify – Manajemen Waktu
Saya jadwalkan waktu coding harian di Google Calendar, lalu pantau durasinya pakai Clockify. Ini bantu saya menghindari overwork dan tetap produktif.
10. ChatGPT – Asisten Coding & Ide
Saat stuck, saya konsultasi ke ChatGPT (ya, saya tulis ini dengan bantuannya juga!). Dari debug, dokumentasi, sampai brainstorming fitur—AI jadi teman kerja yang efisien.
Penutup
Mengelola proyek sendiri memang menantang, tapi dengan tools yang tepat, kamu bisa menjaga arah, fokus, dan produktivitas. Setiap developer punya kombinasi alat favoritnya, dan itulah bagian dari perjalanan kita membentuk workflow yang paling cocok.