Berdasarkan Pengalaman Pribadi dan Pelajaran dari Proses Rekrutmen
Wawancara kerja sebagai Full Stack Developer bukan cuma soal bisa koding. Saya sudah beberapa kali menjalani proses rekrutmen—ada yang sukses, ada juga yang jadi bahan belajar berharga. Dari pengalaman tersebut, saya ingin berbagi beberapa tips praktis yang bisa membantu kamu menghadapi wawancara kerja dengan lebih siap dan percaya diri.
1. Pahami Stack yang Kamu Kuasai, Jangan Menghafal Semua
Full Stack itu luas. Tapi di wawancara, kamu nggak dituntut untuk tahu semua teknologi. Fokus pada stack yang kamu kuasai dengan baik, misalnya:
-
Front-End: React, Vue, atau Next.js
-
Back-End: Node.js, Express, Laravel, dsb
-
Database: PostgreSQL, MongoDB, dsb
Pastikan kamu bisa menjelaskan alasan memilih stack tersebut, kelebihan, kekurangan, dan bagaimana kamu menggunakannya dalam proyek.
2. Latihan Live Coding & Whiteboard Test
Ini momok bagi banyak developer—termasuk saya dulu. Tapi semakin sering latihan, semakin percaya diri.
Tipsnya:
-
Gunakan platform seperti LeetCode, CodeSignal, atau HackerRank.
-
Fokus pada soal-soal seputar: array, string, rekursi, sorting, dan struktur data dasar.
-
Jangan langsung koding—jelaskan dulu alur pikir kamu ke interviewer.
Jangan takut salah. Yang dinilai bukan hasil akhir saja, tapi proses berpikirmu.
3. Siapkan Portofolio Proyek Nyata
Resume boleh bagus, tapi interviewer ingin lihat kode dan proyek asli yang kamu buat.
Idealnya:
-
Proyek front-end + back-end (contoh: e-commerce, to-do app dengan login, dsb)
-
Link GitHub yang rapi (README, struktur folder jelas)
-
Bisa dijelaskan: fitur, arsitektur, tools yang dipakai, dan alasan di balik keputusan teknis
4. Latih Cara Menjelaskan Proyek Secara Lisan
Seringkali pertanyaan seperti ini muncul:
“Ceritakan salah satu proyek yang paling menantang.”
Di sinilah kemampuan komunikasi diuji. Ceritakan dengan struktur:
-
Masalah yang ingin diselesaikan
-
Stack yang digunakan
-
Tantangan teknis
-
Solusi yang diterapkan
-
Apa yang kamu pelajari
Proyek biasa pun bisa terdengar luar biasa kalau kamu bisa menjelaskannya dengan baik.
5. Kuasai Konsep Dasar: Bukan Hanya Framework
Banyak interview menggali pemahaman fundamental:
-
Apa itu REST API?
-
Apa bedanya SQL vs NoSQL?
-
Bagaimana proses request-response terjadi?
-
Apa itu asynchronous programming?
-
Kapan pakai state management?
Framework bisa berubah, tapi konsep dasar itulah yang bikin kamu tahan lama di industri.
6. Tunjukkan Pemahaman tentang Keamanan & Best Practice
Tidak harus jadi expert keamanan, tapi minimal tahu:
-
Cara menghindari SQL Injection / XSS
-
Pentingnya validasi input
-
Manajemen environment variable
-
Authorization & authentication (JWT, OAuth)
7. Ajukan Pertanyaan Balik
Interview bukan hanya mereka menilai kamu, tapi juga sebaliknya.
Tanyakan hal-hal seperti:
-
Bagaimana alur kerja tim dev di perusahaan ini?
-
Stack dan tools apa yang digunakan?
-
Apakah ada budaya code review?
-
Seperti apa proses deployment?
Ini menunjukkan kamu serius dan ingin berkembang.
Penutup: Datang dengan Persiapan, Pulang dengan Pembelajaran
Setiap interview adalah peluang belajar—entah kamu diterima atau tidak.
Yang terpenting adalah:
-
Jujur soal skill yang kamu miliki
-
Tunjukkan semangat belajar dan berkembang
-
Tanggapi kegagalan dengan refleksi, bukan putus asa
“You’re not just applying for a job. You’re applying to be part of a team. Tunjukkan bahwa kamu siap jadi bagian dari solusi.”